Senin, 25 Maret 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR GEDUNG BALAI KOTA BOGOR


A.  Sejarah
Balaikota Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 10, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Bangunan Balaikota Bogor ini dibangun pada tahun 1868, yang semula berfungsi sebagai Societeit. Societeit atau biasa disingkat menjadi soos, berarti klub dalam bahasa Belanda, merupakan perkumpulan yang didirikan sebagai tempat bergaul orang-orang Eropa di masa itu. Societeit menggunakan sistem keanggotaan, hanya kalangan pengusaha, priyayi, dan pejabat yang boleh datang ke klub eksklusif ini.


   Societeit pada akhir abad ke-19 didirikan di setiap kota besar, dan di banyak kota kecil, di Hindia Belanda. Societeit Harmonie di Batavia merupakan yang tertua, sudah ada sejak 1814, dan yang paling bergengsi hingga menjadi model bagi Societeit di seluruh Hindia Belanda. Meskipun gedung Societeit Harmonie sekarang sudah tidak ada, tapi masih menyisakan Harmoni sebagai nama sebuah kawasan di Jakarta Pusat.
De Societeit sendiri merupakan wadah untuk kalangan tertentu alias eksklusif di masa itu. Tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Biasanya yang hadir berasal dari kalangan de Buitenzorg atau Istana Bogor atau para tamu dan pejabat penting lainnya. Sisi ekslusivitas juga dijaga dari warna kulit. Orang pribumi hanya bisa masuk ke dalam De Societeit dalam fungsi sebagai pelayan dan bukan sebagai tamu.

Pada awalnya, pendirian klub-klub sosial ini merupakan bagain dari upaya pihak penguasa kolonial untuk menciptakan sebuah batas antara “dunia beradab” dan “dunia tak beradab” dengan membatasi introduksi kebudayaan Barat hanya pada lingkaran komunitas orang Eropa. Louis Couprerus dalam novel De Stille Kracht mengatakan bahwa keberadaan Societet berhubungan dengan proses globalisasi yang  didorong oleh perdagangan komoditas perkebunan di awal abad ke-19. Kegiatan dagang terbuka yang diinisiasi oleh VOC mengundang orang-orang Eropa yang bekerja sebagai administratur perkebunan dan pemerintahan. Selain itu, hadir pula dokter, seniman, dan makelar. Mereka bersosialita sebagai himpunan elit akibat pertemanan sembari menggelar resepsi, pesta musik, dan pertunjukkan selebritas lainnya.


     Penguasa baru Hindia Belanda lalu membangun infrastruktur kota modern seperti perkantoran, layanan pos, dan jaringan kereta api. Dikarenakan, rumah-rumah kelompok-kelompok elit tidak lagi mencukupi untuk kegiatan sosialita, maka dibangunlah gedung untuk menampung kegiatan para sosialita di masa itu. Gedung tersebut dilengkapi dengan fasilitas untuk pertunjukkan drama, pesta sekolah, dan pertandingan persahabatan. Di dalamnya terdapat pula ruang santai, perpustaan, meja biliar, dan fasilitas-fasilitas rekreatif lainnya.
Fungsi De Societeit sebagai sebuah tempat hiburan malam kalangan eksklusif berlangsung hingga hampir 60 tahun. Perannya berubah setelah kedudukan Bogor atau Buitenzorg berubah di tahun 1926. Ketika itu Buitenzorg dalam struktur pemerintahan berubah menjadi Staads Gemeente alias kotapraja. Pada masa ini De Societeit menjadi kantor Gemeente alias sudah menjadi tempat pemerintahan. Mirip dengan fungsinya sekarang.
Setahun setelah Pengakuan Kemerdekaan Indonesia tahun 1949, nama De Societeit pun berakhir. Perubahan tersebut terkait juga dengan perannya yang baru dalam pemerintahan Indonesia. De Societeit menjadi Markas Komando Resort 061/ Surya Kencana. Tempat ini menjadi markas militer yang membawahi Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Kabupaten Bogor. Peran yang disandangnya hingga 21 tahun berikutnya, tepatnya hingga tahun 1971. Namanya sendiri tidak berubah dan tetap sama hingga tahun 1950. Barulah di tahun 1971 tersebut ketika jabatan walikota Bogor dipegang oleh Achmad Syam, tempat tersebut difungsikan sebagai Balai Kota Bogor.

B.  Langgam Bangunan
Jika melihat gedung-gedung Societeit di beberapa kota di Indonesia, pada umumnya dibangun dalam kurun waktu 1810-1910 dengan gaya arsitektur yang cenderung seragam. Semua gedung dibuat dengan gaya Eropa, yakni sosok yang menjulang tinggi, berwarna putih, disertai pilar-pilar besar, namun disesuaikan dengan iklim Indonesia. Hal ini terlihat dari pintu dan daun jendela dalam ukuran besar dan banyak. Sirkulasi udara terjaga. Ruang-ruang tertata dengan sorotan lampu dalam bentuk yang menarik.


   Dari segi arsitektur, gedung ini punya skala monumental yang baik. Selain ukurannya yang gigantis juga cara meletakkannya di depan lapangan kosong, yang biasanya digunakan untuk parade dan kegunaan lainnya. Sehingga keseluruhan gedung dapat terlihat dengan jelas. Penggambaran tersebut sesuai dengan foto gedung Societeit Bogor tahun 1900. Gedung tersebut berada di tanah yang lapang.


     Ciri khas dari arsitektur gedung Societeit bisa ditengarai dari denahnya yang berbentuk simetri penuh. Di bagian tengah terdapat apa yang disebut sebagai Central Room yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central Room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (Voor Galerij dan Achter Galerij). Teras tersebut biasanya luas dan di ujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani atau Romawi dengan pilar-pilar Doric, Ionic, atau Corinthian. Dapur, kamar mandi/WC, gudang dan daerah pelayanan lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada di bagian belakang.
Gedung Balai Kota ini memiliki luas bangunan 2.639,7 m² di atas lahan seluas 9.060 m². Gedung utama Balai Kota berdenah persegi panjang menghadap ke arah Jalan Ir. H. Juanda atau Istana Bogor, dan memiliki halaman yang cukup luas. Bangunan ini diberi cat warna putih dan dibagian muka gedung memiliki pilar-pilar ramping yang indah sehingga tampak terkesan bangunan megah. Atap bangunan tidak tinggi, relatif rendah. Sedangkan pada bagian badan bangunan diberi profil geometrik pada bagian-bagian dahi jendela dan pintu. Pada bagian kaki bangunan diberi batu alam. Gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Walikota Bogor. Begitu juga beberapa perkantoran Kota Bogor terdapat pada bagian belakang yang merupakan bangunan tambahan (baru dan tidak menempel pada bangunan lama), seperti Disbidpar, Dinas Pendidikan, dan sebagainya.

C.  Tahap Pemugaran


     Balai Kota Bogor termasuk dalam daftar bangunan Cagar Budaya Bogor. Meskipun di dalam kompleks yang sama telah dibangun berbagai perkantoran penunjang kegiatan pemerintahan Bogor, bangunan yang menjadi balai kota tidak mengalami perubahan banyak. Gaya arsitektur kolonial peninggalan Belanda yang dianut masih terlihat kental. Meskipun demikian, bangunan Balai Kota Bogor seperti sekarang, sudah tidak 100% mengadopsi gaya bangunan khas Eropa masa lalu.
Pada tahun 1950, bangunannya sudah mengalami perubahan. Unsur lokal dari bangunan Sunda dimasukan dalam struktur bangunan. Hal tersebut bisa terlihat dari bentuk atap segitiga, pilar-pilar yang ramping serta berbagai ukiran kayu yang mencirikan perpaduan kedua gaya. Sejak saat itu , bangunan kantor walikota ini tidak mengalami perubahan selain beberapa perbaikan.

Sumber :
http://lovelybogor.com/balai-kota-bogor-sang-klub-sosialita/
http://ridapril.blogspot.com/2012/07/konservasi-arsitektur-balaikota-bogor.html
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/balaikota-bogor-dahulu-dan-kini/
https://situsbudaya.id/sejarah-gedung-balai-kota-bogor/

Senin, 11 Maret 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR


Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah
  • Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
  • Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
  • (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kimia atau transformasi fisik.
  • Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
  • Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.
          Di Indonesia, berdasarkan peraturan perundang-undangan, Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Cagar alam dan suaka margasatwa merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA), sementara taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).
          Cagar alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Suaka margasatwa mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwanya.
          Taman nasional mempunyai ekosistem asli yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman hutan raya untuk tujuan koleksi tumbuhan dan satwa yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Taman wisata alam dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

Konservasi Arsitektur
 Konservasi arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi.
          Dalam Burra Charter konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Pengertian ini sebenarnya perlu diperluas lebih spesifik yaitu pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja.

Sasaran Konservasi
  • Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
  • Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini.
  • Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu, tercermin dalam obyek pelestarian.
  • Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi Lingkup Kegiatan.
Ruang Lingkup Konservasi :
Kategori obyek konservasi :
  • Lingkungan Alami (Natural Area)
  • Kota dan Desa (Town and Village)
  • Garis Cakrawala dan Koridor pandang (Skylines and View Corridor)
  •  Kawasan (Districts)
  •  Wajah Jalan (Street-scapes)
  • Bangunan (Buildings)
  • Benda dan Penggalan (Object and Fragments)
Manfaat Konservasi :
  • Memperkaya pengalaman visual
  • Memberi suasana permanen yang menyegarkan
  • Memberi kemanan psikologis
  •  Mewariskan arsitektur
  • Asset komersial dalam kegiatan wisata internasional

Pelaksanaan Konservasi Dalam Arsitektur
Arsitektur menempatkan fakta kesejarahan dan makna bangunan bagi kehidupan manusia dengan upaya memelihara teknis serta nilai fungsinya. Pelestarian bangunan bersejarah harus membuka penafsiran baru akan makna baru. Berarti harus diimplemntasikan konsep-konsep dalam perencanaan dan perancangan arsitektur seperti keterkaitan antarkeberadaan bangunan dan eksistensi pemakainya menyangkut kenyamanan.

Dasar Pelaksanaan Konservasi
      Pelaksanaan konservasi mengacu prinsip utama mempertahankan karakter fisik yang ada dan memberikan manfaat baru.
Skala atau lingkup konservasi dapat meliputi :
1. Suatu kota atau desa secara keseluruhan (historic town or village) misalnya desa adat Tenganan di Bali, Kampung Naga
2.  Suatu daerah bagian kota (historic town distric) misalnya Kota Lama Semarang, Kompleks Keraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta
3.   Bangunan atau karya arsitektur tunggal, misalnya Lawang Sewu dan mesjid Kauman
4.  Rumah Museum (house Museum) rumah yang mempunyai nilai historis dan sudah tidak berfungsi sebagai rumah tetapi sebagai museum misalnya Rumah George Washington, Rumah Rengas Dengklok, Rumah Bung Karno di Peganggsaan Timur Jakarta.
5. Ruang Historic (Historic Room) sebuah ruang yang mempunyai nilai sejarah misalnya Surennder Room, ruang tempat jenderal jepang menyerah pada sekutu.

Penerapan Konservasi dalam Desain Arsitektur
Beberapa konsep yang dapat dikembangkan tentang istilah dasar pelestarian adalah :
1.  Konservasi, adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna budayanya tetap terpelihara. Ini meliputi pemeliharaan dan sesuai dengan keadaan yang meliputi Preservasi, Restorasi, Rekonstruksi dan Adaptasi.
2.  Pemeliharaan adalah perawatan yang terus menerus dari bangunan , makna dan penataan suatu tenmpat dan harus dibedakan dari perbaikan. Perbaikan mencakup restorasi dan rekonstruksi dan harus dilaksanakan sesuai dengannya.
3.  Preservasi adalah mempertahankan (melestarikan) yang telah dibangun disuatu tempat dalam keadaan aslinya tanpa ada perubahan dan mencegah penghancuran.
4.  Restorasi adalah mengembalikan yang telah dibangun di suatu tempat ke kondisi semula yang diketahui, dengan menghilangkan tambahan atau membangun kembali komponen-komponen semula tanpa menggunakan bahan baru.
5.  Rekonstruksi adalah membangun kembali suatu tempat sesuai mungkin dengan kondisi semula yang diketahui dan diperbedakan dengan menggunakan bahan baru atau lama.
6.    Adaptasi adalah merubah suatu tempat sesuai dengan penggunaan yang dapat digabungkan.
7.   Demolisi adalah penghancuran bangunan atau suatu tempat , tidak masuk dalam kategori pelestarian.

Konsep Heritage Investment
Konservasi berkaitan erat dengan nilai sosial ekonomi bangunan dan kawasannya. Sehingga pemahaman tentang pentingnya revitalisasi yang terkait erat dengan pengembangan ekonomi lingkungan perlu diupayakan untuk merubah dan menumbuhkan minat masyarakat dan swasta untuk melakukan investasi pada pelestarian pusaka alam dan budaya. Dengan demikian semangat konservasi menjadi fondasi untuk kemitraan yang akan ditumbuhkan. Penyertaan swasta untuk melakukan investasi di bidang ini memerlukan komitmen jangka panjang dan kapasitas pengelolaan yang andal. Selain menyiapkan dokumen rancangan untuk heritage investment sehingga revitalisasi kawasan dapat berkembang berkelanjutan. Aspek-aspek perlu dipersiapkan, antara lain :
1. Stabilitas peraturan yang mendukung masa depan kawasan revitalisasi. Investor selalu mempertimbangkan resiko bila akan investiasi di kawasan tertentu.
2. Perlu ada pilot project investasi yang dapat ditunjukkan keberhasilannya sehingga dapat dijadikan alat promosi mengundang sektor swasta.
3. Perlu dipersiapkan mekanisme agar penduduk lokal justru tidak terpinggirkan dengan kehadiran investor dari luar. Justru invenstasi mandiri oleh lokal diprioritaskan.

Peran Arsitek Dalam Konservasi :
Internal :
  • Meningkatkan kesadaran di kalangan arsitek untuk mencintai dan mau memelihara warisan budaya berupa kawasan dan bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi.
  • Meningkatkan kemampuan serta penguasaan teknis terhadap jenis-jenis tindakan pemugaran kawasan atau bangunan, terutama teknik adaptive reuse
  • Melakukan penelitian serta dokumentasi atas kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan.
Eksternal :
  • Memberi masukan kepada Pemda mengenai kawasan-kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan dari segi arsitektur.
  • Membantu Pemda dalam menyusun Rencana Tata Ruang untuk keperluan pengembangan kawasan yang dilindungi (Urban Design Guidelines)
  • Membantu Pemda dalam menentukan fungsi atau penggunaan baru bangunan-bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi yang fungsinya sudah tidak sesuai lagi (misalnya bekas pabrik atau gudang) serta mengusulkan bentuk konservasi arsitekturalnya.
  • Memberikan contoh-contoh keberhasilan proyek pemugaran yang dapat menumbuhkan keyakinan pengembang bahwa dengan mempertahankan identitas kawasan/bangunan bersejarah, pengembangan akan lebih memberikan daya tarik yang pada gilirannya akan lebih mendatangkan keuntungan finansial.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Konservasi
https://urbanpages.wordpress.com/pelaksanaan-konservasi-dalam-arsitektur/
https://wikimelo.wordpress.com/2016/08/04/pengertian-konservasi-arsitektur/

Minggu, 10 Februari 2019

KRITIK ARSITEKTUR : GEDUNG PARKIR SEBAGAI SOLUSI KEMACETAN


I.  PENDAHULUAN
Macet sepertinya hampir tiap hari disetiap kota, tentu saja kemacetan ini membawa dampak tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat, akibat Meningkatnya jumlah penduduk berpengaruh pada tingginya frekuensi kegiatan di pusat-pusat perniagaan, sehingga permintaan jasa transportasi semakin tinggi. Salah satu penyebab kemacetan adalah kurangnya lahan parkir di pusat pusat perkantoran atau bangunan publik. Dalam hal ini permasalahan parkir sangat penting untuk dikaji lebih mendalam.
Ruang parkir yang dibutuhkan harus tersedia secara memadai. Semakin besar volume lalu-lintas yang beraktivitas baik yang meninggalkan atau menuju pusat kegiatan, maka semakin besar pula kebutuhan ruang parkir, jika parkiran pada bangunan tidak cukup kendaraan tersebut akan mengambil parkir di tepi jalan di sekitar kawasan tersebut, sehingga menyebabkan kesemrawutan. Jadi parkir di jalan raya harus diatur dan dibatasi dengan cara menyediakan ruang parkir sesuai kebutuhan, Banyaknya orang yang menggunakan jalan di sekitar bangunan sebagai lahan parkir, dan berdampak pada angka kemacetan dan kecelakaan lalu-lintas tinggi, menurunnya kapasitas jalan karena lebar efektif berkurang, sehingga bila kelancaran arus lebih dipentingkan dari parkir dilakukan pembatasan atau pelarangan parkir.
Salah satu bentuk solusi dalam masalah parkiran adalah pembuataan gedung parkir vertikal, pembuatan gedung parkir vertikal ini sangat efektif dari parkiran horisontal, karena parkiran horisontal tersebut sudah kurang efektif untuk menampung banyaknya kendaraan pada satu area perkantoran atau sarana publik lainnya yang memiliki lahan yang kurang luas. Gedung parkir vertikal tentunya lebih banyak menampung kendaraan dalam suatu lahan yang kurang memadai dan juga kapasitas tampung kendaraan yang jauh lebih besar.


Gedung parkir tentunya menjadi solusi yang sangat baik dalam permasalahan parkiran, Tetapi pada gedung parkir ini juga memerlukan lahan yang agak luas, agar dapat memberikan sirkulasi pergerakan baik kendaran maupun penggunanya secara leluasa. Memberikan sistem pendukung yang lebih mengefektifkan gedung parkir vertikal ini seperti mengaplikasikan sistem bangunan pintar.
Gedung parkir sendiri ialah gedung yang khusus dibangun untuk tempat parkir kendaraan, dengan demikian pemakaian lahan terutama di kawasan pusat kota dapat dilakukan secara efisien. Gedung parkir dapat dikombinasikan dengan pusat kegiatan, di mana lantai basement dan beberapa lantai di atasnya digunakan untuk parkir dan selanjutnya di atasnya ditempatkan bangunan pusat kegiatan seperti pertokoan, perkantoran dan pusat kegiatan lainnya.
II. METODE
Metode yang akan digunakan dalam Kritik Arsitektur ini ialah dengan menggunakan pendekatan gabungan. Pendekatan gabungan adalah metode pendekatan yang menggabungkan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini melibatkan asumsi-asumsi filosofis serta melibatkan kedua metode ini secara kolektif.(Creswell,2009)
III.  KAJIAN
Parkir ialah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara karena ditinggalkan oleh pengemudinya. Secara hukum dilarang untuk parkir di tengah jalan raya, namun parkir di sisi jalan umumnya diperbolehkan. Fasilitas parkir dibangun bersama-sama dengan kebanyakan gedung, untuk memfasilitasi kendaraan pemakai gedung.Termasuk dalam pengertian parkir adalah setiap kendaraan yang berhenti pada tempat-tempat tertentu baik yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas ataupun tidak, serta tidak semata-mata untuk kepentingan menaikkan dan/atau menurunkan orang dan/atau barang. Ada tiga jenis utama parkir, yang berdasarkan mengaturan posisi kendaraan, yaitu parkir paralel, parkir tegak lurus, dan parkir serong.
   Satuan Ruang Parkir
Satuan ruang parkir (SRP) merupakan ukuran luas efektif untuk meletakkan satu buah kendaraan (mobil penumpang, bus/truk, atau sepeda motor). Di dalamnya sudah termasuk ruang bebas di kiri dan kanan kendaraan dengan pengertian pintu bisa dibuka untuk turun naik penumpang serta hal-hal tertentu seperti ruang gerak untuk kursi roda khusus untuk parkir kendaraan bagi penderita cacat serta ruang bebas depan dan belakang. Bila tanpa penjelasan, SRP adalah SRP untuk mobil penumpang.
   Cara parkir
Bagi sebagian besar kendaraan bermotor, ada tiga cara parkir, berdasarkan susunan kendaraan - parkir paralel, parkir tegak lurus, dan parkir serong. Ini adalah konfigurasi di mana pengemudi kendaraan dapat mengakses parkir secara mandiri.
a)  Parkir paralel
Parkir sejajar di mana parkir diatur dalam sebuah baris, dengan bumper depan mobil menghadap salah satu bumper belakang yang berdekatan. Parkir dilakukan sejajar dengan tepi jalan, baik di sisi kiri jalan atau sisi kanan atau kedua sisi bila hal itu memungkinkan,. Parkir paralel adalah cara paling umum dilakasanakan untuk parkir mobil dipinggir jalan. Cara ini juga digunakan dipelataran parkir ataupun gedung parkir khususnya untuk mengisi ruang parkir yang parkir serong tidak memungkinkan.
b) Parkir tegak lurus
Dengan cara ini mobil diparkir tegak lurus, berdampingan, menghadap tegak lurus ke lorong/gang, trotoar, atau dinding. Jenis mobil ini parkir lebih terukur daripada parkir paralel dan karena itu biasanya digunakan di tempat di pelataran parkir parkir atau gedung parkir. Sering kali, di tempat parkir mobil menggunakan parkir tegak lurus, dua baris tempat parkir dapat diatur berhadapan depan dengan depan, dengan atau tanpa gang di antara keduanya. Bisa juga parkir tegak lurus dilakukan dipinggir jalan sepanjang jalan di mana parkir ditempatkan cukup lebar untuk kendaraan keluar atau masuk ke ruang parkir.
c)  Parkir serong
Salah satu cara parkir yang banyak digunakan dipinggir jalan ataupun di pelataran maupun gedung parkir adalah parkir serong yang memudahkan kendaraan masuk ataupun keluar dari ruang parkir. Pada pelataran ataupun gedung parkir yang luas, diperlukan gang yang lebih sempit bila dibandingkan dengan parkir tegak lurus.

IV.  PEMBAHASAN
Gedung parkir sendiri ialah gedung yang khusus dibangun untuk tempat parkir kendaraan, dengan demikian pemakaian lahan terutama di kawasan pusat kota dapat dilakukan secara efisien. Gedung parkir dapat dikombinasikan dengan pusat kegiatan, di mana lantai basement dan beberapa lantai di atasnya digunakan untuk parkir dan selanjutnya di atasnya ditempatkan bangunan pusat kegiatan seperti pertokoan, perkantoran dan pusat kegiatan lainnya.
   Desain gedung parkir
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam desin gedung parkir, yaitu:
I.   Rampa naik turun
Untuk bisa naik dan turun antar lantai digunakan rampa dengan kelandaian tertentu dan dikelompokkan atas:
1.  Rampa di dalam gedung, yang menghubungkan lantai dengan lantai dengan kelandaian 15 % dan harus ditambah dengan kelandaian yang lebih kecil pada awal dan akhir rampa sebesar 8 sampai 9 % untuk menhindari tersangkutnya bemper depan atau belakang sedan.
2.  Rampa di luar gedung, biasanya berbentuk spiral ditempatkan di kedua sisi gedung bila satu arah atau disalah satu sisi bila rampa spiral ini dibuat untuk arus dua arah.
3.  Lift kendaraan, untuk menaikkan atau menurunkan kendaraan ke lantai parkir. Perangkat ini biasanya ditempatkan pada gedung parkir yang lahannya sangat terbatas.
II. Struktur bangunan
Bangunan parkir dapat dibangun dengan dua cara yaitu dengan cara bertingkat biasa, lantai satu di atas lantai lainnya atau split level yang dapat menghemat ruang untuk pintu rampanya yang lebih pendek. Bangunan dapat dibangun dengan struktur beton bertulang ataupun dengan rangka baja yang dikombinasi dengan lantai beton.
III. Lift
Gedung parkir biasanya dilengkapi dengan lift dan atau tangga berjalan khususnya di gedung parkir yang besar untuk memudahkan pengemudi/pengguna gedung parkir untuk naik atau turun dari ruang parkir ke tempat kegiatan khususnya bagi gedung parkir yang lantainya banyak.
IV. Keselamatan
Ada beberapa aspek keselamatan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan gedung parkir, yaitu:
1.  Dinding yang cukup kuat pada rampa ataupun pada ruang parkir, mengingat beberapa kejadian mengenaskan terjadi di Jakarta beberapa waktu yang lalu, di mana kendaraan terjun melalui dinding yang rusak akibat ketabrak mobil yang sedang masuk atau keluar ruang parkir atau berjalan di rampa.
2.  Stopper parkir untuk menahan kendaraan yang parkir tidak melampaui ruang parkir.
3.  Sirkulasi udara di dalam ruang gedung parkir
Di kota-kota Jepang di mana lahan amat terbatas dan sangat mahal, diciptakan parkir robotik di mana kendaraan yang akan diparkir disusun sedemikian sehingga penggunaan ruang sangat efisien, kedaraan diangkat ke ruang parkir dengan menggunakan robot disusun dengan jarak yang sangat berdekatan dan tidak diperlukan ruang untuk kendaraan bersirkulai mencari ruang parkir yang kosong. Untuk mengoperasikan, mengatur dan mencari kendaraan yang diparkir digunakan sistem pintar yang dikelola oleh suatu program komputer.

V. KESIMPULAN
Perparkiran di dunia merupakan permasalah khusus untuk kota2 metropolitan. Semuanya memang harus bisa di diskusikan dengan komprehensif, burhubungan dengan jalan raya, transportasi serta perparkiran. Dengan konsep gedung parkir, konvensional atau modern, seharusnya mulai banyak diterapkan di Indonesia. Sistim perparkiran di di kota besar  memang sulit di atasi, tetapi bukan tidak bisa diatasi. Dengan menerapkan konsep Park and Walk, yaitu parkir mobil di gedung parkir dan nikmati berjalan kaki di trotoar yang nyaman menuju tujuan, akan didapat beberapa keuntungan.
Pertama, lebar badan jalan tidak berkurang karena tidak adanya on-street parking sehingga tidak terjadi penurunan kinerja jalan dan dengan demikian mengurangi potensi terjadinya kemacetan lalu-lintas.
Kedua, dengan berkurangnya kemacetan lalu-lintas maka mengurangi akumulasi polusi udara dari gas buang kendaraan bermotor yang terjadi pada kondisi kemacetan lalu-lintas sehingga udara menjadi lebih sehat bagi warga kota.
Ketiga, membangun gaya hidup sehat bagi warga kota dengan membiasakan berjalan kaki dalam jarak pendek dan sedang.
Keempat, penghematan energi BBM dari berkurangnya kemacetan lalu-lintas. Konsep ini hanya bisa terwujud apabila terdapat sinkronisasi antara bangunan parkir dengan ketersediaan trotoar yang mendukung aksesibilitas berjalan kaki di kawasan yang bersangkutan.
Penyediaan gedung parkir seyogyanya tidak berdiri sendiri melainkan harus terintegrasi dengan fasilitas trotoar yang akan mengantar ke tujuan-tujuan yang diinginkan dengan lancar, nyaman, aman dan menyenangkan.


Sumber    :
https://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_parkir
https://id.wikipedia.org/wiki/Parkir
https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/123032/parkir-alternatif-mengatasi-kemacetan

Sabtu, 07 April 2018

STUDI EKSKURSI "TOPKAPI PALACE"


BAB I

Sejarah

Kompleks istana terletak di Seraglio Point ( Sarayburnu ), sebuah tanjung yang menghadap ke Golden Horn , di mana Selat Bosphorus bertemu dengan Laut Marmara . Datarannya berbukit dan istana itu sendiri terletak di salah satu titik tertinggi yang dekat dengan laut. Selama zaman Yunani dan Bizantium, acropolis dari kota Yunani kuno Byzantion berdiri di sini.

Setelah penaklukan Sultan Mehmed II ke Istanbul pada tahun 1453, Istana Besar Konstantinopel sebagian besar hancur. Pengadilan Ottoman awalnya didirikan di Istana Lama ( Eski Saray ), hari ini situs Universitas Istanbul di Beyazit Square. Mehmed II memerintahkan pembangunan Istana Topkapi dimulai pada tahun 1459. Menurut sebuah laporan dari sejarawan kontemporer Critobulus dari Imbros, sang sultan "berhati-hati untuk memanggil para pekerja terbaik dari mana-mana - tukang batu dan tukang batu dan tukang kayu ... Karena ia membangun besar bangunan yang layak dilihat dan harus dalam segala hal bersaing dengan yang terbaik dan terbaik di masa lalu. " Akun berbeda tentang kapan pembangunan inti dalam istana dimulai dan selesai. Kritovolous memberikan tanggal 1459–1465; sumber lain menyarankan konstruksi selesai pada akhir 1460-an.

Mehmed II mendirikan tata letak dasar istana. Tempat pribadinya akan terletak di titik tertinggi tanjung. Berbagai bangunan dan paviliun mengelilingi inti terdalam dan berakhir di tanjung menuju pantai Bosphorus . Seluruh kompleks dikelilingi oleh tembok tinggi, beberapa di antaranya tanggal kembali ke acropolis Bizantium. Tata letak dasar ini mengatur pola renovasi dan ekstensi masa depan. Tata letak dan penampilan Istana Topkapi adalah unik di antara tidak hanya wisatawan Eropa, tetapi juga istana Islam atau oriental. Wisatawan Eropa menggambarkannya sebagai "tidak teratur, asimetris, non-aksial, dan proporsi yang tidak monumental". Ottoman menyebutnya "The Palace of Felicity". Kehidupan sehari-hari yang ketat, seremonial, dan terkodifikasi memastikan pengasingan kekaisaran dari seluruh dunia. Salah satu prinsip utama adalah pengamatan keheningan di halaman dalam. Prinsip pengucilan kekaisaran adalah tradisi yang dikodifikasikan oleh Mehmed II pada 1477 dan 1481 dalam Kode Kanunname , yang mengatur urutan peringkat pejabat pengadilan, hierarki administrasi, dan masalah protokol. Prinsip pengasingan meningkat seiring waktu tercermin dalam gaya konstruksi dan pengaturan berbagai aula dan bangunan. Para arsitek harus memastikan bahwa bahkan di dalam istana, sultan dan keluarganya dapat menikmati privasi dan keleluasaan maksimum, memanfaatkan jendela-jendela panggang dan membangun lorong-lorong rahasia.

Belakangan sultan membuat berbagai modifikasi pada istana, meskipun tata letak dasar Mehmed II sebagian besar sudah dipraktekkan. Istana itu secara signifikan diperluas antara 1520 dan 1560, pada masa pemerintahan Suleyman the Magnificent . Kekaisaran Ottoman telah berkembang pesat dan Suleyman ingin kediamannya mencerminkan kekuatannya yang terus tumbuh. Arsitek utama pada periode ini adalah Persia Alaüddin, juga dikenal sebagai Acem Ali.  Ia juga bertanggung jawab atas perluasan Harem.

Pada 1574, setelah kebakaran hebat menghancurkan dapur, Mimar Sinan dipercayakan oleh Sultan Selim II untuk membangun kembali bagian-bagian istana yang rusak. Mimar Sinan memulihkan dan memperluas tidak hanya daerah yang rusak, tetapi juga Harem, pemandian, Kamar Privy dan berbagai paviliun pantai.

Pada akhir abad ke-16, istana telah memperoleh penampilannya yang sekarang. Istana adalah kompleks yang luas daripada struktur monolitik tunggal, dengan berbagai macam bangunan rendah yang dibangun di sekitar halaman, yang saling berhubungan dengan galeri dan lorong. Beberapa bangunan melebihi dua lantai. Dilihat dari atas, dasar istana dibagi menjadi empat halaman utama dan harem. Halaman pertama adalah yang paling mudah diakses, sementara halaman keempat dan harem adalah yang paling sulit dijangkau. Akses ke halaman ini dibatasi oleh tembok tinggi dan dikendalikan dengan gerbang. Selain empat sampai lima halaman utama, berbagai halaman berukuran kecil hingga menengah ada di seluruh kompleks. Perkiraan ukuran total kompleks bervariasi dari sekitar 592.600 m 2 (146,4 acre) hingga 700.000 m 2 (173 hektar).

Di sebelah barat dan selatan kompleks ini dibatasi oleh taman bunga kekaisaran besar, yang sekarang dikenal sebagai Gülhane Park . Berbagai bangunan terkait seperti istana musim panas kecil ( kasır ), paviliun, kios ( köşk ) dan struktur lain untuk kesenangan kerajaan dan fungsi sebelumnya ada di pantai di daerah yang dikenal sebagai Halaman Kelima, tetapi telah menghilang seiring waktu karena kelalaian dan pembangunan rel kereta garis pantai pada abad ke-19. Struktur pantai terakhir yang masih ada saat ini adalah Kios Keranjang , dibangun pada tahun 1592 oleh Sultan Murad III .


BAB II

Tipologi

Setelah pembentukan Republik Turki, Istana Topkapi, diubah menjadi museum pada tanggal 3 April 1924 dan itu juga merupakan museum pertama Republik Turki. Topkapı Palace Museum mencakup sekitar 400.000 squaremeters pada saat ini. Istana Topkapi terbagi dari kota dari sisi darat oleh Imperial Walls yang dibuat oleh Mehmed the Conqueror. Ini terbagi dari kota juga dari sisi laut oleh Tembok Byzantium. Istana Topkapı adalah salah satu museum istana terbesar dengan struktur arsitekturalnya, koleksi dan sekitar 300.000 arsip kertas.


Fasad

The Imperial Gate

The Gate of Salutation

The palace kitchens

The Gate of Felicity

The Conqueror's Pavilion

Library of Sultan Ahmed III


Struktur

Istana Topkapi adalah kompleks yang luas daripada struktur monolitik tunggal, dengan berbagai macam bangunan rendah yang dibangun di sekitar halaman, yang saling berhubungan dengan galeri dan lorong. Arsitektur monolitik meliputi bangunan-bangunan yang diukir, dilemparkan atau digali dari satu bagian material, dalam bentuk-bentuk historis bebatuan. Bentuk paling dasar dari arsitektur yang dibangun dari monolit adalah bangunan yang dipotong batu, bangunan dengan bahan struktural yang dituangkan ke tempat, paling sering dengan beton , juga dapat digambarkan sebagai monolitik. Istilah monolit dan elemen seperti kolom monolitik biasanya digunakan untuk benda-benda yang terbuat dari sepotong batu besar tunggal yang terlepas dari tanah.


                                                                      


BAB III

Landscape

Istana terdiri dari empat halaman dengan berbagai bangunan yang diletakkan di atasnya. Semua ini dikelilingi oleh tembok . Pada diagram, halaman pertama, kedua, ketiga dan keempat ditunjukkan oleh angka 1,9,19,28. Meter ini dari yang pertama sampai yang keempat secara konsisten kurang umum.



Jika halaman pertama bertempat pelayan dan janissari, maka pada kedua ada upacara resmi. Di halaman ketiga dan keempat, kehidupan pribadi para sultan dan keluarganya berjalan, dan lebih sedikit acara-acara negara seremonial diadakan. Misalnya, negosiasi pribadi. Di dalam tembok umum yang mengelilingi kompleks Topkapi, pekarangan juga dipisahkan oleh dinding dengan gerbang. Angka 2,8,18 menandakan masing-masing Gerbang Kekaisaran, Gerbang Salutation dan Gerbang Kebahagiaan. Skema ini menunjukkan berbagai bangunan kompleks istana. Nomor 3 menunjukkan bekas Gereja St. Irene; 5 - Museum Arkeologi; 12 - pembangunan Divan, 13 - menara Kehakiman, 14 - pintu masuk ke harem, 15 - kompleks harem; 17 - dapur; 20 - Ruang Audiensi - Arz Odasi; 31 - Paviliun Baghdad.


Interior

Pemandian Sultan dan Ibu Suri

Kamar berikutnya adalah Pemandian Sultan dan Ibu Suri ( Hünkâr ve Vâlide Hamamları ). Kamar mandi double ini berasal dari akhir abad ke-16 dan terdiri dari beberapa kamar. Ia didekorasi ulang dalam gaya rococo di pertengahan abad ke-18. 



Kedua pemandian menyajikan desain yang sama, terdiri dari caldarium , tepidarium dan frigidarium . Setiap kamar memiliki kubah, atau langit-langit di beberapa titik kaca dalam struktur sarang lebah untuk membiarkan sinar matahari alami masuk Lantai dilapisi marmer putih dan abu-abu. Bak marmer dengan air mancur hias di caldarium dan panggangan besi yang disepuh merupakan fitur yang khas. Pekerjaan kisi-kisi emas adalah untuk melindungi sultan pemandian atau ibunya dari upaya-upaya pembunuhan. Pemandian Sultan didekorasi oleh Sinan dengan ubin İznik polikrom berkualitas tinggi. Tapi banyak dekorasi ubin harem, dari struktur yang rusak akibat kebakaran tahun 1574, didaur ulang oleh Sultan Ahmed I untuk hiasan di Masjid Sultan Ahmed barunya di Istanbul. Dinding sekarang dilapisi marmer atau putih bersih.

Imperial Hall

The Imperial Hall ( Hünkâr Sofası ), juga dikenal sebagai Imperial Sofa, Throne Room Within atau Hall of Diversions, adalah aula berkubah di Harem, yang diyakini telah dibangun pada akhir abad ke-16. Ini memiliki kubah terbesar di istana. Aula ini berfungsi sebagai aula resepsi resmi sultan serta untuk hiburan Harem. Di sini sultan menerima orang kepercayaannya, tamu, ibunya, istri pertamanya ( Hasseki ), permaisuri, dan anak-anaknya. Hiburan, membayar penghormatan selama festival keagamaan, dan upacara pernikahan berlangsung di sini di hadapan para anggota dinasti.



Setelah Kebakaran Harem Besar tahun 1666, aula itu direnovasi dengan gaya rococo pada masa pemerintahan Sultan Osman III. Sabuk ubin yang mengelilingi dinding dengan prasasti kaligrafi dibalas dengan Delftware biru-putih abad ke-18 dan cermin-cermin kaca Venetian . Namun lengkungan dan liontin berkubah masih memiliki lukisan klasik yang berasal dari konstruksi aslinya.
Di aula berdiri tahta sultan. Galeri itu ditempati oleh permaisuri sultan, dipimpin oleh Ibu Suri. Kursi-kursi berlapis emas adalah hadiah Kaisar Wilhelm II dari Jerman , sedangkan jam-jamnya adalah hadiah Ratu Victoria dari Kerajaan Inggris . Sebuah pantry, tempat alat musik dipamerkan, terbuka ke Imperial Hall, yang menyediakan akses ke apartemen pribadi sultan.
Sebuah pintu rahasia di balik cermin memungkinkan sultan berjalan dengan aman. Satu pintu masuk ke apartemen Ibu Suri, satu lagi ke hammam sultan. Pintu-pintu yang berlawanan mengarah ke ruang makan kecil (dibangun kembali oleh Ahmed III) dan kamar tidur besar, sementara yang lain mengakui serangkaian ruang-ante, termasuk ruangan dengan air mancur ( Çeşmeli Sofa ), yang semuanya dicor ulang dan didekorasi ulang pada abad ke-17.

Kamar Privat Murat III

The Privy Chamber of Murat III ( III. Murad Has Odası ) adalah kamar tertua dan terbaik yang masih ada di harem, setelah mempertahankan interior aslinya. Itu adalah desain arsitek tuan Sinan dan berasal dari abad ke-16. Kubahnya hanya sedikit lebih kecil daripada Ruang Singgasana. Balainya memiliki salah satu pintu terbaik istana dan melewati sayap pangeran mahkota ( Kafes ). 



Kamar dihiasi dengan ubin İznik biru-putih dan karang-merah. Desain bunga yang kaya dibingkai di perbatasan oranye tebal tahun 1570-an. Sekelompok ubin bertuliskan berjalan di sekitar ruangan di atas tingkat rak dan pintu. Pola-pola arab yang besar dari kubah telah diwarnai dan diwarnai dengan warna hitam dan merah. Perapian besar dengan kap emas ( ocak ) berdiri di seberang air mancur dua tingkat ( çeşme ), dihias dengan terampil dalam marmer berwarna. Aliran air dimaksudkan untuk mencegah penyadapan, sambil memberikan suasana santai ke ruangan. Kedua tempat tidur baldachin yang dilapisi emas berasal dari abad ke-18.

Kamar Pribadi Ahmed I

Di sisi lain kamar tidur yang besar ada dua kamar yang lebih kecil: pertama Kamar Privy dari Ahmed I ( I. Ahmed Has Odası ), didekorasi dengan sangat mewah dengan ubin kaca İznik. Pintu lemari, jendela daun jendela, meja kecil dan podium Qur'an dihiasi dengan nacre dan gading.



Kamar Privy dari Ahmed III

Di sebelahnya adalah Kamar Privy yang kecil tapi sangat berwarna-warni dari Ahmed III ( III. Ahmed Has Odası ) dengan dinding yang dicat dengan panel desain bunga dan mangkuk buah dan dengan perapian ubin yang rumit ( ocak ). Ruangan ini karena itu juga dikenal sebagai Ruang Buah ( Yemis Odası ) dan mungkin digunakan untuk keperluan makan.

Twin Kiosk / Apartemen Putra Mahkota

The Twin Kiosk / Apartemen Putra Mahkota ( Çifte Kasırlar / Veliahd Dairesi ) terdiri dari dua kamar pribadi yang dibangun pada abad ke-17, pada waktu yang berbeda. Bangunan ini terhubung ke istana dan hanya terdiri dari satu lantai yang dibangun di atas platform yang ditinggikan untuk memberikan pandangan yang lebih baik dari dalam dan melindungi pemandangan dari luar.



Interior terdiri dari dua kamar besar, yang berasal dari masa pemerintahan Sultan Murat III, tetapi lebih mungkin dari masa pemerintahan Ahmed I. Langit-langitnya tidak datar tetapi berbentuk kerucut dalam gaya kios, membangkitkan tenda-tenda tradisional awal Ottoman. Seperti di tenda-tenda, tidak ada perabotan berdiri tetapi sofa diletakkan di lantai berkarpet di sisi dinding untuk tempat duduk. Kamar-kamar ini mewakili semua rincian gaya klasik yang digunakan di bagian lain istana. Paviliun telah sepenuhnya didekorasi ulang, dan sebagian besar kayu Barok telah dihilangkan. Ubin dekoratif, mencerminkan kualitas tinggi pengerjaan dari industri keramik Izai dari abad ke-17, telah dihapus sesuai dengan konsep asli dan diganti dengan salinan modern. Cat kubah kayu masih asli dan merupakan contoh dari desain yang kaya pada akhir abad ke-16 / awal 17. Perapian di kamar kedua memiliki kap, tinggi dan telah dikembalikan ke penampilan aslinya. Jendela daun di samping perapian dihiasi dengan intarsia nacre . Jendela-jendela di kaca berwarna terlihat di teras tinggi dan taman kolam di bawahnya. Spigots di jendela ini dikelilingi dengan desain merah, hitam dan emas.
Putra mahkota ( Şehzadeler ) tinggal di sini dalam pengasingan; oleh karena itu, apartemen juga disebut kafes (kandang). Putra mahkota dan pangeran lainnya dilatih dalam disiplin Ottoman Harem sampai mereka mencapai dewasa. Setelah itu, mereka dikirim sebagai gubernur ke provinsi Anatolia , di mana mereka lebih terlatih dalam administrasi urusan negara. Dari awal abad ke-17 dan seterusnya, para pangeran tinggal di Harem, yang mulai memiliki suara dalam administrasi istana. Kios Kembar digunakan sebagai ruang jamban putra mahkota dari abad ke-18 dan seterusnya.




Sumber :
http://dighist.fas.harvard.edu/courses/2015/HUM54/items/show/255?collection=4
https://en.wikipedia.org/wiki/Monolithic_architecture
https://en.wikipedia.org/wiki/Topkap%C4%B1_Palace
http://topkapisarayi.gov.tr/en/history
http://woman-az.ru/viewtopic.php?t=3312