Minggu, 16 Juni 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR ANGKOR WAT


A.  Pendahuluan
Angkor yang terletak di provinsi utara Siem Reap Kamboja adalah salah satu situs arkeologi terpenting di Asia Tenggara, membentang lebih dari sekitar 400 kilometer persegi dan terdiri dari sejumlah candi, struktur hidrolik (cekungan, tanggul, waduk, kanal) serta rute komunikasi. Selama beberapa abad Angkor, adalah pusat Kerajaan Khmer. Dengan monumen yang mengesankan, beberapa rencana kota kuno yang berbeda dan tempat penampungan air yang besar, situs ini adalah konsentrasi fitur unik yang bersaksi tentang peradaban yang luar biasa. Kuil-kuil seperti Angkor Wat, Bayon, Preah Khan dan Ta Prohm, contoh arsitektur Khmer, terkait erat dengan konteks geografis mereka serta diimbuhi makna simbolis. Arsitektur dan tata letak ibukota berturut-turut menjadi saksi tingkat tinggi tatanan sosial dan peringkat dalam Kekaisaran Khmer. Oleh karena itu Angkor adalah situs utama yang mencontohkan nilai-nilai budaya, agama dan simbolik, serta mengandung arsitektur, arkeologis, dan artistik yang penting.
Angkor Wat adalah salah satu candi utama di kawasan Angkor, dibangun antara tahun 1113 dan 1150 atas perintah raja Suryawarman II. Suryawarman naik takhta setelah berhasil mengalahkan pangeran saingannya. Sebuah prasasti menuliskan bahwa Suryawarman memenangi perang dengan cara melompat ke punggung gajah perang musuh sekaligus membunuh musuhnya, bagaikan Garuda membunuh ular naga.
Setelah mengkonsolidasikan posisi politiknya melalui berbagai serangan militer, diplomasi, dan administrasi domestik yang tegas, Suryawarman memulai pembangunan Angkor Wat sebagai candi pribadinya sekaligus kuil dan makam tempat ia dimuliakan. Ia memutus tradisi raja-raja Khmer sebelumnya yang lebih mengutamakan Shiwa dengan berpaling pada aliran Waisnawa seiring bangkitnya aliran yang lebih memuliakan Wishnu ini di India. Ia mempersembahkan candi ini untuk Wishnu dengan menyebutnya Vishnuloka, dan bukan kepada Shiwa. Dengan tembok hampir mencapai panjang 2,4 kilometer pada setiap sisinya, Angkor Wat dengan megahnya menggambarkan kosmologi Hindu, dengan menara utama melambangkan gunung Meru, tempat bersemayam para dewa; dinding luar melambangkan pegunungan yang melingkari dunia; parit besar melambangkan samudra luas.
Tema tradisionalnya adalah mengidentifikasikan dewa-raja Kamboja dengan dewa Hindu, dan tempat tinggalnya adalah kerajaan langit (swargaloka) yang tampak dari segala perwujudan dan perlambang candi agung ini. Ukuran candi ini sendiri memiliki arti kosmologis yang melambangkan alam semesta. Suryawarman memerintahkan dinding candi ini dihiasi bas relief yang selain menampilkan adegan dalam mitologi, juga adegan kehidupan sehari-harinya di istana kerajaan. Salah satu adegannya menggambarkan sang raja dalam ukuran besar tengah duduk dengan kaki bersilang di singgasana tinggi tengah memimpin rapat kerajaan, sementara dayang-dayang dan pengiringnya mengipasi dan memayunginya.
Angkor Wat sendiri merupakan sebuah gugus bangunan candi di negara Kamboja yang merupakan salah satu monumen keagamaan terbesar di dunia. Candi yang berdiri di atas situs seluas 1.626.000 m2 ini mula-mula dibangun sebagai candi agama Hindu Kerajaan Khmer yang dibaktikan untuk dewa Wisnu, namun lambat laun berubah menjadi candi agama Buddha menjelang akhir abad ke-12. Angkor Wat dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada permulaan abad ke-12 di Yaśodharapura, ibu kota Kemaharajaan Khmer, sebagai candi negara sekaligus tempat persemayaman abu jenazahnya. Berbeda dari raja-raja pendahulunya yang berbakti kepada dewa Siwa, Raja Suryawarman II justru membangun Angkor Wat untuk dibaktikan kepada dewa Wisnu. Sebagai candi yang paling terawat di kawasan percandian Angkor, Angkor Wat merupakan satu-satunya candi yang masih menjadi pusat keagamaan penting semenjak didirikan.

B.  Desain dan konstruksi
Kompleks candi dikelilingi oleh parit dengan lebar 190 m, yang membentuk persegi panjang 1,5 km kali 1,3 km. Sebuah jalan lintas batu pasir melintasi parit di sisi baratnya. Elemen gaya dari karakteristik kompleks arsitektur Khmer meliputi; menara ogival, berbentuk kuncup teratai, setengah galeri, galeri aksial yang menghubungkan selungkup dan teras berbentuk salib.
Piramida utama berbentuk tiga teras berundak, dengan galeri tertutup yang membatasi semua sisi setiap langkah . Sudut-sudut tangga kedua dan ketiga diselingi oleh menara , menara yang tertinggi mencapai 55 m.
Pada saat pembangunannya , arsitek Khmer mahir dalam penggunaan batu pasir sebagai bahan bangunan , dan kompleks dibangun menggunakan 5-10 juta blok batu pasir , beratnya mencapai 1,5 ton. Blok-blok ini digali dari gunung Phnom Kulen, lebih dari 50 km jauhnya, dan mengapung di atas rakit menyusuri Sungai Siem Reap. Prasasti mencatat bahwa konstruksi melibatkan 300.000 pekerja dan 6.000 gajah.
Blok batu pasir membentuk elemen struktur yang paling terlihat, sedangkan jenis tanah liat setempat, laterit, digunakan untuk dinding luar dan menyembunyikan elemen struktural . Zat pengikat yang tepat untuk balok-balok itu tidak diketahui, meskipun diyakini sebagai resin alami atau kapur miring .
Secara internal, batu - batu halus diletakkan dengan sambungan yang sangat rapat tanpa mortar , disatukan dengan sambungan mortise dan duri, atau dengan pas dan gravitasi. Diyakini bahwa balok-balok itu dirakit menggunakan kombinasi gajah, tali sabut dan katrol, dan perancah bambu .
Angkor Wat terkenal dengan rangkaian detail simbolisnya yang luas. Hampir 2.000 meter persegi relief relief diukir secara rumit ke dalam batu pasir , serta lintel , friezes dan pediments yang diukir secara luas, dan hampir 2.000 penggambaran apsara (penari surgawi).

C.  Pasca konstruksi
Setelah Raja Suryavarman II wafat, kuil ini dikonversi menjadi penggunaan Buddha oleh Raja Jayavarman VII. Minat Barat terhadap kuil hanya benar-benar dimulai dengan tulisan-tulisan naturalis Prancis Henri Mouhot pada tahun 1860-an.
Pekerjaan konservasi dimulai dari Prancis pada awal abad ke-20 dan berlanjut selama beberapa dekade dalam upaya untuk melestarikan struktur dari kerusakan yang disebabkan oleh pertumbuhan tanaman , jamur, gerakan tanah , perang dan penjarahan. Upaya konservasi dihentikan selama sekitar 20 tahun dengan dimulainya Perang Sipil Kamboja dan meningkatnya kekuasaan Khmer Merah.
Pada tahun 1992, Angkor Wat menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO , dan tim dari seluruh dunia telah kembali untuk menstabilkan dan melestarikannya. Secara khusus, mereka telah bekerja untuk mengatasi biofilm mikroba yang menurunkan batu pasir. Pekerjaan konservasi ekstensif telah menggantikan dan mengembalikan beberapa patung yang hilang atau rusak.

D.  Kesimpulan
Angkor Wat adalah kompleks kuil agama di Kamboja dan merupakan monumen keagamaan terbesar di dunia serta dianggap sebagai contoh klasik terbaik arsitektur Khmer, sebuah tradisi bangunan yang membentang lima abad selama masa pemerintahan Kekaisaran Khmer. Mahakarya langgam klasik arsitektur Khmer ini telah menjadi salah satu lambang negara Kamboja, ditampilkan pada bendera negara Kamboja, dan menjadi daya tarik wisata utama negara itu. Angkor Wat dikagumi karena kemegahan dan keselarasan arsitekturnya, luasnya bidang yang dihiasi relief dangkal, dan sekian banyak sosok dewata yang terukir pada tembok-temboknya.



Sumber :
https://designingbuildings.co.uk/wiki/Angkor_Wat
https://id.wikipedia.org/wiki/Angkor
https://id.wikipedia.org/wiki/Angkor_Wat
https://whc.unesco.org/en/list/668

Senin, 22 April 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR GEDUNG LAWANG SEWU


A.  Pendahuluan
Lawang Sewu adalah salah satu bangunan bersejarah di Indonesia yang mempunyai integritas arsitektur yang kuat dari perpaduan pengaruh barat, terutama Eropa dan keunikan lokal yang kental. Tampilan bangunan gedung Lawang Sewu menganut gaya Romanesque Revival dengan ciri yang dominan, yaitu memiliki elemen-elemen arsitektural yang berbentuk lengkung sederhana dan dirancang dengan pendekatan iklim setempat. Penyelesaian sudut bangunan dengan adanya dua fasade serta penggunaan menara pada gedung Lawang Sewu sedikit banyak diilhami oleh bentuk sudut bangunan kota-kota Eropa zaman abad pertengahan yang masih berkembang sampai saat ini.

Lawang Sewu terletak di Jalan Pemuda, tepatnya di perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr. Soetomo, dan Jalan Soegijapranata, Semarang. Lawang Sewu pada awalnya didesain oleh Ir. P. de Rieau di Amsterdam. Desain tersebut kemudian dibangun oleh Prof. Jacob Klinkhamer dan BJ Oudang. Pembangunan dimulai pada tahun 1863 dan selesai secara intensif pada tahun 1913. Lawang Sewu resmi digunakan pada tanggal 1 Juli 1907.
Hak milik dari Lawang Sewu adalah Nederlandsch Indische Spoorweg (NIS), yang merupakan cikal bakal perkeretaapian di Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, gedung Lawang Sewu digunakan sebagai kantor perkeretaapian milik Indonesia, yatu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Lalu pada tahun 1949, Lawang Sewu digunakan sebagai kantor administrasi oleh Kodam IV Diponegoro. Pada tahun 1994, Lawang Sewu disewa oleh PT Binangun Artha Perkasa (BAP) dan Perumka DAOP IV Semarang dalam perjanjian Memorandum of Understanding. Setelah itu, Lawang Sewu ditempati oleh Departemen Perhubungan selama dua tahun. Akhirnya Lawang Sewu dijual kepada pihak swasta dengan alasan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan.

B.  Langgam Bangunan
 Gedung Lawang Sewu dibagi menjadi empat bagian, yaitu gedung A, B, C, dan D. Gedung A merupakan gedung utama dari Lawang Sewu yang berbentuk huruf L. Gedung B adalah gedung di bagian belakang yang bentuknya membujur dengan arah utara-selatan. Gedung C adalah gedung bagian tengah yang dulu difungsikan sebagai kantor. Gedung D merupakan gedung yang memiliki fasilitas- fasilitas penunjang seperti kamar mandi.


Umur Lawang Sewu yang sudah lebih dari satu abad tentu saja menyebabkan bentuk atau elemen bangunan tersebut sudah ada yang mengalami kerusakan. Seperti disebutkan pada situs kereta api Indonesia, atap gedung Lawang Sewu sudah tidak mampu lagi untuk menampung air hujan sehingga setiap hujan, air akan mengalir secara bebas melalui atap yang sudah lapuk. Dinding gedung Lawang Sewu yang menjadi penopang bangunan pun sudah lapuk.
Untuk mengatasi hal itu, pihak PT Kereta Api bekerjasama dengan pemerintah provinsi melakukan konservasi pada gedung Lawang Sewu. Hasilnya bisa dilihat pada Gedung A yang merupakan bangunan utama. Kaca mozaik yang terletak pada dinding bagian atas gedung sudah terlihat semakin jelas. Koordinator Pelaksana Konservasi Lawang Sewu, Kriswandhono, memperkirakan konservasi yang dilakukan pada Lawang Sewu akan rampung dalam waktu empat bulan.

C.  Pembahasan
    Dalam konservasi yang dilakukan pada gedung Lawang Sewu ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan. Hal pertama yang harus dipikirkan adalah bagaimana proses publikasi dan sosialisasi tentang proses dan hasil konservasi. Publikasi dan sosialisasi ini berisi informasi tentang seluruh pelosok gedung Lawang Sewu, seperti teknologi glasir mutakhir dan sistem saluran udara dan air yang canggih. Dengan adanya publikasi dan sosialisasi ini tentu akan membangkitkan kesadaran banyak pihak, terutama masyarakat kota Semarang dan umumnya masyarakat Indonesia terhadap apa yang disebut heritage atau warisan budaya hingga kepada pemahaman mengapa bangunan dan lingkungan penting dan layak untuk dilestarikan.



Hal lain yang harus dipikirkan adalah nilai ekonomi dari Gedung Lawang Sewu. Rencana kegiatan atau fungsi baru dari ruangan atau gedung dari Lawang Sewu harus digerakkan sejak dini. Pemerintah setempat bersama dengan pemilik bangunan, yaitu PT Kereta Api harus menjadi regulator yang mendukung upaya revitalisasi yang sesungguhnya dan juga mencari cara untuk mendatangkan investor. Rencana ini sangat penting agar ruangan dan gedung yang sudah dikonservasi tidak menganggur terlalu lama hingga kembali menjadi bangunan mati.

     Nilai ekonomi dari Lawang Sewu juga menjadi ruang bisnis komersial dari Lawang Sewu. Hasil yang didapatkan dari bisnis tersebut akan digunakan untuk mendanai pemeliharaan dan perawatan pada
gedung Lawang Sewu selama tidak menyimpang dari kaidah-kaidah pemanfaatan benda cagar budaya. Karena pemanfaatan yang tidak mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku justru akan menghancurkan gedung dan akan menghilangkan nilai budaya yang seharusnya dapat lebih ditonjolkan. Banyak kegiatan bisnis yang dapat dilakukan tanpa keluar dari kaidah pelestarian bangunan. Pada bangunan utama dapat dijadikan shop-arcade mall, convention room, food and berverage, exhibition, especial event, atau balai lelang internasional. Gedung B dapat dijadikan rumah kreatif seperti sekolah untuk manajemen warisan sejarah, museum, situs fotografi, situs sinematografi, dan sebagainya. Dengan adanya pemanfaatan dari gedung yang juga menghasilkan keuntungan tentu saja akan membuat gedung tersebut tidak menganggur dan bisa menjadi pemasukan bagi perusahaan.



Masalah lain yang tidak kalah penting untuk dipikirkan adalah pengembangan sumber daya. Kasus lemahnya pengembangan dan pemanfaatan benda cagar budaya yang ada di dalam sebuah situs maupun sebuah museum menjadi gambaran konkrit yang hingga saat ini masih jelas terlihat. Untuk itu ketidakmampuan masyarakat harus dikembangkan melalui suatu kegiatan dan kreativitas yang tinggi sehingga warisan budaya mampu menjadi sumber daya yang sungguh bisa menyelesaikan permasalahan bangsa tentang pelestarian warisan budaya dan secara bertahap membuat perbaikan. Gedung Lawang Sewu adalah sebuah warisan budaya yang secara jelas memiliki potensi dan mampu dijadikan kiblat percontohan dari pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya yang pastinya akan menjadi sorotan berbagai pihak yang berkepentingan dalam dunia pelestarian benda cagar budaya.

D.  Kesimpulan
      Gedung Lawang Sewu adalah salah satu warisan sejarah dari zaman kolonial. Sebagai salah satu warisan sejarah tentu saja gedung Lawang Sewu harus mendapat perhatian dari segi pelestarian. Pelestarian perlu dilakukan mengingat umur bangunan yang sudah lebih dari satu abad dan sudah cukup lama bangunan tidak dihuni dan digunakan. Pelestarian yang dilakukan harus memikirkan beberapa hal, antara lain publikasi dan sosialisai konservasi Lawang Sewu, segi ekonomi dan bisnis gedung Lawang Sewu, dan bagaimana gedung lawang Sewu dapat mengembangkan sumber daya budaya di Indonesia.


Sumber :
id.wikipedia.org/wiki/Lawang_Sewu
Jovita Liyonis. 2017. Konservasi Gedung Lawang Sewu sebagai Warisan Sejarah Indonesia. Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI). 1(A): 171-174.
seputarsemarang.com/lawang-sewu-pemuda-1272/

Senin, 25 Maret 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR GEDUNG BALAI KOTA BOGOR


A.  Sejarah
Balaikota Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 10, Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Bangunan Balaikota Bogor ini dibangun pada tahun 1868, yang semula berfungsi sebagai Societeit. Societeit atau biasa disingkat menjadi soos, berarti klub dalam bahasa Belanda, merupakan perkumpulan yang didirikan sebagai tempat bergaul orang-orang Eropa di masa itu. Societeit menggunakan sistem keanggotaan, hanya kalangan pengusaha, priyayi, dan pejabat yang boleh datang ke klub eksklusif ini.


   Societeit pada akhir abad ke-19 didirikan di setiap kota besar, dan di banyak kota kecil, di Hindia Belanda. Societeit Harmonie di Batavia merupakan yang tertua, sudah ada sejak 1814, dan yang paling bergengsi hingga menjadi model bagi Societeit di seluruh Hindia Belanda. Meskipun gedung Societeit Harmonie sekarang sudah tidak ada, tapi masih menyisakan Harmoni sebagai nama sebuah kawasan di Jakarta Pusat.
De Societeit sendiri merupakan wadah untuk kalangan tertentu alias eksklusif di masa itu. Tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Biasanya yang hadir berasal dari kalangan de Buitenzorg atau Istana Bogor atau para tamu dan pejabat penting lainnya. Sisi ekslusivitas juga dijaga dari warna kulit. Orang pribumi hanya bisa masuk ke dalam De Societeit dalam fungsi sebagai pelayan dan bukan sebagai tamu.

Pada awalnya, pendirian klub-klub sosial ini merupakan bagain dari upaya pihak penguasa kolonial untuk menciptakan sebuah batas antara “dunia beradab” dan “dunia tak beradab” dengan membatasi introduksi kebudayaan Barat hanya pada lingkaran komunitas orang Eropa. Louis Couprerus dalam novel De Stille Kracht mengatakan bahwa keberadaan Societet berhubungan dengan proses globalisasi yang  didorong oleh perdagangan komoditas perkebunan di awal abad ke-19. Kegiatan dagang terbuka yang diinisiasi oleh VOC mengundang orang-orang Eropa yang bekerja sebagai administratur perkebunan dan pemerintahan. Selain itu, hadir pula dokter, seniman, dan makelar. Mereka bersosialita sebagai himpunan elit akibat pertemanan sembari menggelar resepsi, pesta musik, dan pertunjukkan selebritas lainnya.


     Penguasa baru Hindia Belanda lalu membangun infrastruktur kota modern seperti perkantoran, layanan pos, dan jaringan kereta api. Dikarenakan, rumah-rumah kelompok-kelompok elit tidak lagi mencukupi untuk kegiatan sosialita, maka dibangunlah gedung untuk menampung kegiatan para sosialita di masa itu. Gedung tersebut dilengkapi dengan fasilitas untuk pertunjukkan drama, pesta sekolah, dan pertandingan persahabatan. Di dalamnya terdapat pula ruang santai, perpustaan, meja biliar, dan fasilitas-fasilitas rekreatif lainnya.
Fungsi De Societeit sebagai sebuah tempat hiburan malam kalangan eksklusif berlangsung hingga hampir 60 tahun. Perannya berubah setelah kedudukan Bogor atau Buitenzorg berubah di tahun 1926. Ketika itu Buitenzorg dalam struktur pemerintahan berubah menjadi Staads Gemeente alias kotapraja. Pada masa ini De Societeit menjadi kantor Gemeente alias sudah menjadi tempat pemerintahan. Mirip dengan fungsinya sekarang.
Setahun setelah Pengakuan Kemerdekaan Indonesia tahun 1949, nama De Societeit pun berakhir. Perubahan tersebut terkait juga dengan perannya yang baru dalam pemerintahan Indonesia. De Societeit menjadi Markas Komando Resort 061/ Surya Kencana. Tempat ini menjadi markas militer yang membawahi Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Kabupaten Bogor. Peran yang disandangnya hingga 21 tahun berikutnya, tepatnya hingga tahun 1971. Namanya sendiri tidak berubah dan tetap sama hingga tahun 1950. Barulah di tahun 1971 tersebut ketika jabatan walikota Bogor dipegang oleh Achmad Syam, tempat tersebut difungsikan sebagai Balai Kota Bogor.

B.  Langgam Bangunan
Jika melihat gedung-gedung Societeit di beberapa kota di Indonesia, pada umumnya dibangun dalam kurun waktu 1810-1910 dengan gaya arsitektur yang cenderung seragam. Semua gedung dibuat dengan gaya Eropa, yakni sosok yang menjulang tinggi, berwarna putih, disertai pilar-pilar besar, namun disesuaikan dengan iklim Indonesia. Hal ini terlihat dari pintu dan daun jendela dalam ukuran besar dan banyak. Sirkulasi udara terjaga. Ruang-ruang tertata dengan sorotan lampu dalam bentuk yang menarik.


   Dari segi arsitektur, gedung ini punya skala monumental yang baik. Selain ukurannya yang gigantis juga cara meletakkannya di depan lapangan kosong, yang biasanya digunakan untuk parade dan kegunaan lainnya. Sehingga keseluruhan gedung dapat terlihat dengan jelas. Penggambaran tersebut sesuai dengan foto gedung Societeit Bogor tahun 1900. Gedung tersebut berada di tanah yang lapang.


     Ciri khas dari arsitektur gedung Societeit bisa ditengarai dari denahnya yang berbentuk simetri penuh. Di bagian tengah terdapat apa yang disebut sebagai Central Room yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central Room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (Voor Galerij dan Achter Galerij). Teras tersebut biasanya luas dan di ujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani atau Romawi dengan pilar-pilar Doric, Ionic, atau Corinthian. Dapur, kamar mandi/WC, gudang dan daerah pelayanan lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada di bagian belakang.
Gedung Balai Kota ini memiliki luas bangunan 2.639,7 m² di atas lahan seluas 9.060 m². Gedung utama Balai Kota berdenah persegi panjang menghadap ke arah Jalan Ir. H. Juanda atau Istana Bogor, dan memiliki halaman yang cukup luas. Bangunan ini diberi cat warna putih dan dibagian muka gedung memiliki pilar-pilar ramping yang indah sehingga tampak terkesan bangunan megah. Atap bangunan tidak tinggi, relatif rendah. Sedangkan pada bagian badan bangunan diberi profil geometrik pada bagian-bagian dahi jendela dan pintu. Pada bagian kaki bangunan diberi batu alam. Gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Walikota Bogor. Begitu juga beberapa perkantoran Kota Bogor terdapat pada bagian belakang yang merupakan bangunan tambahan (baru dan tidak menempel pada bangunan lama), seperti Disbidpar, Dinas Pendidikan, dan sebagainya.

C.  Tahap Pemugaran


     Balai Kota Bogor termasuk dalam daftar bangunan Cagar Budaya Bogor. Meskipun di dalam kompleks yang sama telah dibangun berbagai perkantoran penunjang kegiatan pemerintahan Bogor, bangunan yang menjadi balai kota tidak mengalami perubahan banyak. Gaya arsitektur kolonial peninggalan Belanda yang dianut masih terlihat kental. Meskipun demikian, bangunan Balai Kota Bogor seperti sekarang, sudah tidak 100% mengadopsi gaya bangunan khas Eropa masa lalu.
Pada tahun 1950, bangunannya sudah mengalami perubahan. Unsur lokal dari bangunan Sunda dimasukan dalam struktur bangunan. Hal tersebut bisa terlihat dari bentuk atap segitiga, pilar-pilar yang ramping serta berbagai ukiran kayu yang mencirikan perpaduan kedua gaya. Sejak saat itu , bangunan kantor walikota ini tidak mengalami perubahan selain beberapa perbaikan.

Sumber :
http://lovelybogor.com/balai-kota-bogor-sang-klub-sosialita/
http://ridapril.blogspot.com/2012/07/konservasi-arsitektur-balaikota-bogor.html
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/balaikota-bogor-dahulu-dan-kini/
https://situsbudaya.id/sejarah-gedung-balai-kota-bogor/

Senin, 11 Maret 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR


Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, (Inggris)Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah
  • Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
  • Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
  • (fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kimia atau transformasi fisik.
  • Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan
  • Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.
          Di Indonesia, berdasarkan peraturan perundang-undangan, Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Cagar alam dan suaka margasatwa merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA), sementara taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA).
          Cagar alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Suaka margasatwa mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwanya.
          Taman nasional mempunyai ekosistem asli yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman hutan raya untuk tujuan koleksi tumbuhan dan satwa yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Taman wisata alam dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

Konservasi Arsitektur
 Konservasi arsitektur adalah penyelamatan suatu obyek/bangunan sebagai bentuk apreasiasi pada perjalanan sejarah suatu bangsa, pendidikan dan pembangunan wawasan intelektual bangsa antar generasi.
          Dalam Burra Charter konsep konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Pengertian ini sebenarnya perlu diperluas lebih spesifik yaitu pemeliharaan morfologi (bentuk fisik) dan fungsinya. Kegiatan konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Bila dikaitkan dengan kawasan maka konservasi kawasan atau sub bagian kota mencakup suatu upaya pencegahan adanya aktivitas perubahan sosial atau pemanfaatan yang tidak sesuai dan bukan secara fisik saja.

Sasaran Konservasi
  • Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
  • Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini.
  • Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu, tercermin dalam obyek pelestarian.
  • Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi Lingkup Kegiatan.
Ruang Lingkup Konservasi :
Kategori obyek konservasi :
  • Lingkungan Alami (Natural Area)
  • Kota dan Desa (Town and Village)
  • Garis Cakrawala dan Koridor pandang (Skylines and View Corridor)
  •  Kawasan (Districts)
  •  Wajah Jalan (Street-scapes)
  • Bangunan (Buildings)
  • Benda dan Penggalan (Object and Fragments)
Manfaat Konservasi :
  • Memperkaya pengalaman visual
  • Memberi suasana permanen yang menyegarkan
  • Memberi kemanan psikologis
  •  Mewariskan arsitektur
  • Asset komersial dalam kegiatan wisata internasional

Pelaksanaan Konservasi Dalam Arsitektur
Arsitektur menempatkan fakta kesejarahan dan makna bangunan bagi kehidupan manusia dengan upaya memelihara teknis serta nilai fungsinya. Pelestarian bangunan bersejarah harus membuka penafsiran baru akan makna baru. Berarti harus diimplemntasikan konsep-konsep dalam perencanaan dan perancangan arsitektur seperti keterkaitan antarkeberadaan bangunan dan eksistensi pemakainya menyangkut kenyamanan.

Dasar Pelaksanaan Konservasi
      Pelaksanaan konservasi mengacu prinsip utama mempertahankan karakter fisik yang ada dan memberikan manfaat baru.
Skala atau lingkup konservasi dapat meliputi :
1. Suatu kota atau desa secara keseluruhan (historic town or village) misalnya desa adat Tenganan di Bali, Kampung Naga
2.  Suatu daerah bagian kota (historic town distric) misalnya Kota Lama Semarang, Kompleks Keraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta
3.   Bangunan atau karya arsitektur tunggal, misalnya Lawang Sewu dan mesjid Kauman
4.  Rumah Museum (house Museum) rumah yang mempunyai nilai historis dan sudah tidak berfungsi sebagai rumah tetapi sebagai museum misalnya Rumah George Washington, Rumah Rengas Dengklok, Rumah Bung Karno di Peganggsaan Timur Jakarta.
5. Ruang Historic (Historic Room) sebuah ruang yang mempunyai nilai sejarah misalnya Surennder Room, ruang tempat jenderal jepang menyerah pada sekutu.

Penerapan Konservasi dalam Desain Arsitektur
Beberapa konsep yang dapat dikembangkan tentang istilah dasar pelestarian adalah :
1.  Konservasi, adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna budayanya tetap terpelihara. Ini meliputi pemeliharaan dan sesuai dengan keadaan yang meliputi Preservasi, Restorasi, Rekonstruksi dan Adaptasi.
2.  Pemeliharaan adalah perawatan yang terus menerus dari bangunan , makna dan penataan suatu tenmpat dan harus dibedakan dari perbaikan. Perbaikan mencakup restorasi dan rekonstruksi dan harus dilaksanakan sesuai dengannya.
3.  Preservasi adalah mempertahankan (melestarikan) yang telah dibangun disuatu tempat dalam keadaan aslinya tanpa ada perubahan dan mencegah penghancuran.
4.  Restorasi adalah mengembalikan yang telah dibangun di suatu tempat ke kondisi semula yang diketahui, dengan menghilangkan tambahan atau membangun kembali komponen-komponen semula tanpa menggunakan bahan baru.
5.  Rekonstruksi adalah membangun kembali suatu tempat sesuai mungkin dengan kondisi semula yang diketahui dan diperbedakan dengan menggunakan bahan baru atau lama.
6.    Adaptasi adalah merubah suatu tempat sesuai dengan penggunaan yang dapat digabungkan.
7.   Demolisi adalah penghancuran bangunan atau suatu tempat , tidak masuk dalam kategori pelestarian.

Konsep Heritage Investment
Konservasi berkaitan erat dengan nilai sosial ekonomi bangunan dan kawasannya. Sehingga pemahaman tentang pentingnya revitalisasi yang terkait erat dengan pengembangan ekonomi lingkungan perlu diupayakan untuk merubah dan menumbuhkan minat masyarakat dan swasta untuk melakukan investasi pada pelestarian pusaka alam dan budaya. Dengan demikian semangat konservasi menjadi fondasi untuk kemitraan yang akan ditumbuhkan. Penyertaan swasta untuk melakukan investasi di bidang ini memerlukan komitmen jangka panjang dan kapasitas pengelolaan yang andal. Selain menyiapkan dokumen rancangan untuk heritage investment sehingga revitalisasi kawasan dapat berkembang berkelanjutan. Aspek-aspek perlu dipersiapkan, antara lain :
1. Stabilitas peraturan yang mendukung masa depan kawasan revitalisasi. Investor selalu mempertimbangkan resiko bila akan investiasi di kawasan tertentu.
2. Perlu ada pilot project investasi yang dapat ditunjukkan keberhasilannya sehingga dapat dijadikan alat promosi mengundang sektor swasta.
3. Perlu dipersiapkan mekanisme agar penduduk lokal justru tidak terpinggirkan dengan kehadiran investor dari luar. Justru invenstasi mandiri oleh lokal diprioritaskan.

Peran Arsitek Dalam Konservasi :
Internal :
  • Meningkatkan kesadaran di kalangan arsitek untuk mencintai dan mau memelihara warisan budaya berupa kawasan dan bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi.
  • Meningkatkan kemampuan serta penguasaan teknis terhadap jenis-jenis tindakan pemugaran kawasan atau bangunan, terutama teknik adaptive reuse
  • Melakukan penelitian serta dokumentasi atas kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan.
Eksternal :
  • Memberi masukan kepada Pemda mengenai kawasan-kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan dari segi arsitektur.
  • Membantu Pemda dalam menyusun Rencana Tata Ruang untuk keperluan pengembangan kawasan yang dilindungi (Urban Design Guidelines)
  • Membantu Pemda dalam menentukan fungsi atau penggunaan baru bangunan-bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi yang fungsinya sudah tidak sesuai lagi (misalnya bekas pabrik atau gudang) serta mengusulkan bentuk konservasi arsitekturalnya.
  • Memberikan contoh-contoh keberhasilan proyek pemugaran yang dapat menumbuhkan keyakinan pengembang bahwa dengan mempertahankan identitas kawasan/bangunan bersejarah, pengembangan akan lebih memberikan daya tarik yang pada gilirannya akan lebih mendatangkan keuntungan finansial.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Konservasi
https://urbanpages.wordpress.com/pelaksanaan-konservasi-dalam-arsitektur/
https://wikimelo.wordpress.com/2016/08/04/pengertian-konservasi-arsitektur/